
MediaSolo menyoroti persoalan kesehatan ibu dan bayi setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut Indonesia masih menghadapi sekitar 4.000 kematian ibu dan 30 ribu kematian bayi setiap tahun. Pemerintah kini tidak hanya mengejar penurunan angka tersebut, tetapi juga menyoroti kualitas layanan rumah sakit, pengendalian infeksi, pemeriksaan kehamilan, hingga kecepatan sistem rujukan.
Pernyataan itu muncul dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR pada 14 September 2026. Budi menilai posisi Indonesia untuk indikator tersebut masih kurang baik dibanding sejumlah negara ASEAN. Jawa Barat termasuk wilayah yang mendapat perhatian karena mencatat kasus kematian ibu dan bayi cukup tinggi.
Sekitar 34 Ribu Ibu dan Bayi Meninggal Tiap Tahun
Angka yang disampaikan Menkes menunjukkan besarnya tantangan kesehatan ibu dan anak. Sekitar 30 ribu bayi meninggal setiap tahun, sementara kematian ibu mencapai kurang lebih 4.000 kasus.
Data tersebut perlu dibedakan dari rasio kematian maternal yang menggunakan jumlah kematian per 100 ribu kelahiran hidup. WHO mencatat estimasi rasio kematian maternal Indonesia mencapai sekitar 140,5 per 100 ribu kelahiran hidup pada 2023. Angka ini sudah membaik dibanding kondisi dua dekade sebelumnya, tetapi kesenjangan pelayanan antarwilayah masih menjadi tantangan.
Melalui evaluasi WHO Indonesia, para peneliti juga menemukan variasi cukup besar dalam mutu pelayanan kesehatan reproduksi, ibu, bayi baru lahir, anak, dan remaja antarprovinsi. Kondisi geografis serta kemampuan fasilitas kesehatan ikut memengaruhi kualitas layanan.
Artinya, persoalan tidak hanya terletak pada akses menuju fasilitas kesehatan. Mutu pemeriksaan, kemampuan tenaga medis, ketersediaan alat, serta sistem rujukan ikut menentukan keselamatan pasien.
Infeksi Rumah Sakit Jadi Sorotan Menkes
Perhatian pemerintah kini juga mengarah pada kejadian kematian setelah pasien masuk rumah sakit.
Budi mencontohkan pasien yang mengalami perdarahan, memperoleh perawatan, kemudian mengalami infeksi beberapa hari setelahnya. Menurutnya, pola tersebut menunjukkan perlunya perbaikan pada kebersihan dan pengendalian infeksi rumah sakit.
Kementerian Kesehatan sudah mengidentifikasi rumah sakit yang memiliki angka kematian ibu dan bayi tinggi. Pemerintah berencana memberi pendampingan agar fasilitas tersebut dapat memperbaiki kualitas pelayanan, termasuk manajemen infeksi.
Indikator resistansi antimikroba atau antimicrobial resistance juga akan masuk dalam evaluasi. Langkah ini penting karena infeksi yang tidak merespons antibiotik dapat memperumit penanganan pasien dengan kondisi kritis.
Masalah tersebut menunjukkan bahwa keselamatan ibu tidak selesai ketika proses persalinan berakhir. Pemantauan setelah persalinan tetap penting karena perdarahan, infeksi, tekanan darah tinggi, serta komplikasi lain dapat muncul setelah bayi lahir.
Preeklamsia Masih Membutuhkan Deteksi Lebih Awal
Pemerintah juga memperkuat deteksi dini preeklamsia, salah satu komplikasi serius pada kehamilan.
Preeklamsia umumnya berkaitan dengan tekanan darah tinggi selama kehamilan dan dapat memengaruhi organ ibu. Kondisi berat dapat mengancam keselamatan ibu maupun janin jika tidak mendapat penanganan tepat.
Kementerian Kesehatan pada April 2026 memperluas program deteksi dini melalui pemanfaatan teknologi serta distribusi alat pemeriksaan. Menkes menargetkan rasio kematian ibu turun menuju sekitar 40 per 100 ribu kelahiran hidup dalam lima tahun.
Pemeriksaan kehamilan teratur mempunyai peran penting dalam upaya tersebut. Tenaga kesehatan dapat memantau tekanan darah, pertumbuhan janin, kondisi ibu, serta tanda komplikasi sebelum masalah berkembang menjadi keadaan darurat.
Ibu hamil juga perlu segera mencari bantuan medis ketika mengalami sakit kepala berat, gangguan penglihatan, pembengkakan mendadak, nyeri perut hebat, perdarahan, atau penurunan gerakan janin.
Bayi Berat Lahir Rendah Masih Menjadi Tantangan
Risiko tidak berhenti setelah proses persalinan selesai.
WHO menyoroti bayi dengan berat lahir rendah sebagai salah satu kontributor kematian neonatal yang masih membutuhkan perhatian. Keterbatasan alat, tenaga terlatih, dan kapasitas fasilitas menjadi masalah pada sejumlah daerah.
Kematian neonatal merujuk pada kematian bayi sejak lahir sampai usia 28 hari. Periode tersebut menjadi fase yang sangat rentan karena bayi masih beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim.
Masalah pernapasan, infeksi, kelahiran prematur, berat lahir rendah, dan komplikasi persalinan dapat meningkatkan risiko.
Karena itu, kualitas pelayanan setelah bayi lahir sama pentingnya dengan pemeriksaan selama kehamilan. Fasilitas kesehatan perlu memastikan bayi memperoleh pemantauan suhu tubuh, pernapasan, nutrisi, dan tanda infeksi.
Pemerintah Membentuk Jaringan Layanan Ibu dan Anak
Kemenkes sepanjang 2026 memperkuat jaringan rumah sakit untuk pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Program pengampuan KIA mempertemukan rumah sakit dengan kemampuan layanan berbeda agar fasilitas yang lebih kuat dapat membantu rumah sakit regional. Pemerintah berharap pola tersebut mempercepat transfer pengetahuan, konsultasi medis, serta sistem rujukan.
Program Indonesia Every Baby Rescue juga menyasar penurunan kematian neonatal melalui peningkatan kemampuan layanan bayi baru lahir. RSAB Harapan Kita menjadi salah satu pusat kegiatan program tersebut.
Sementara itu, jejaring Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif atau PONEK terus memperkuat koordinasi antara puskesmas dan rumah sakit. Sistem rujukan yang cepat sangat penting ketika ibu mengalami perdarahan, kejang akibat hipertensi kehamilan, atau komplikasi persalinan lain.
Target Pemerintah Sangat Ambisius
Kementerian Kesehatan sebelumnya menyampaikan target menurunkan kematian ibu dari sekitar 4.000 menjadi kurang dari 400 kasus per tahun. Pemerintah juga ingin menekan kematian bayi dari sekitar 30 ribu menjadi kurang dari 3.000 kasus.
Target tersebut berarti penurunan sekitar sepuluh kali lipat dari kondisi yang pemerintah sampaikan sekarang.
Melalui program 1.000 HPK, Kemenkes ingin memperkuat layanan sejak masa kehamilan sampai anak berusia dua tahun. Periode ini sangat menentukan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan kesehatan jangka panjang.
Namun, keberhasilan tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas.
Pemerintah perlu memastikan standar layanan berjalan konsisten, tenaga kesehatan tersedia, rumah sakit mengendalikan infeksi, serta sistem rujukan bekerja tanpa keterlambatan. Masyarakat juga membutuhkan akses pemeriksaan kehamilan yang mudah agar komplikasi dapat terdeteksi lebih awal.
Sorotan terbaru Menkes akhirnya memperlihatkan bahwa kematian ibu dan bayi bukan sekadar persoalan angka nasional. Setiap kasus mencerminkan rangkaian pelayanan kesehatan, mulai dari pemeriksaan kehamilan, persalinan, perawatan rumah sakit, hingga pemantauan bayi setelah lahir.
Indonesia memang sudah mencatat kemajuan dalam beberapa indikator kesehatan maternal. Tantangan berikutnya adalah memastikan kemajuan tersebut tersa merata, sehingga keselamatan ibu dan bayi tidak lagi terlalu bergantung pada tempat mereka tinggal atau fasilitas yang mereka datangi.










No Response