MediaSolo mencatat langkah penting pelestarian budaya di Kota Solo setelah sekitar 210 manuskrip kuno koleksi Keraton Surakarta masuk dalam program digitalisasi pada awal Oktober 2026.
Kegiatan berlangsung di Perpustakaan Sasana Pustaka dan melibatkan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, British Library, pihak Keraton Surakarta, serta tim Masyarakat Pernaskahan Nusantara atau Manassa.
Digitalisasi manuskrip Keraton Surakarta bertujuan menjaga isi naskah agar tetap terdokumentasi sekaligus mengurangi kebutuhan membuka koleksi fisik secara berulang.
Langkah tersebut penting karena sebagian manuskrip berusia tua dan membutuhkan perlakuan khusus untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.
Digitalisasi Manuskrip Keraton Surakarta Libatkan Tiga Lembaga
Proses alih media dilakukan dengan tahapan yang tidak sederhana.
Petugas harus memeriksa kondisi halaman, penjilidan, tinta, serta bagian naskah yang telah mengalami kerusakan sebelum kamera digunakan.
Berdasarkan laporan ANTARA, kegiatan digitalisasi berlangsung di kompleks Sasana Pustaka pada 1 Oktober 2026.
Tim yang terlibat tidak hanya mengambil gambar halaman, tetapi juga memastikan manuskrip ditangani dengan cara yang aman.
Kondisi kertas yang rapuh menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan.
Naskah lama berbeda dari buku modern karena perubahan kelembapan, usia material, hingga bekas lipatan dapat membuat bagian tertentu mudah rusak.
Karena itu, proses digitalisasi harus berjalan perlahan dan terukur.
Teknologi digital membantu menciptakan salinan yang dapat digunakan untuk pembacaan awal tanpa harus terus-menerus menyentuh dokumen asli.
Mengapa Manuskrip Lama Perlu Didokumentasikan?
Manuskrip kuno tidak hanya menyimpan tulisan.
Di dalamnya dapat terdapat informasi mengenai kehidupan sosial, bahasa, sastra, kepercayaan, pemerintahan, pengetahuan tradisional, hingga kebiasaan masyarakat pada masanya.
Dalam konteks Keraton Surakarta, koleksi Sasana Pustaka memiliki nilai besar bagi penelitian budaya Jawa.
Sebagian naskah dapat membantu peneliti memahami bagaimana gagasan, istilah, dan sistem pengetahuan berkembang pada periode tertentu.
Melalui dokumentasi Bisnis.com, program tersebut juga diarahkan untuk mengurangi risiko kerusakan akibat penggunaan langsung.
Semakin sering sebuah manuskrip dibuka, semakin besar potensi halaman mengalami tekanan.
Salinan digital dapat membantu menekan frekuensi interaksi langsung dengan koleksi asli.
Namun, digitalisasi tetap tidak menggantikan nilai artefak fisik.
Bahan kertas, warna tinta, tekstur, teknik penjilidan, dan kondisi halaman tetap menjadi objek penelitian penting.
Akses Penelitian Bisa Menjadi Lebih Mudah
Salah satu manfaat terbesar digitalisasi adalah peluang memperluas akses terhadap informasi.
Sebelumnya, peneliti mungkin harus datang langsung ke perpustakaan untuk sekadar mengetahui isi awal sebuah manuskrip.
Dengan adanya salinan digital, proses identifikasi dapat dilakukan lebih cepat.
Mahasiswa atau peneliti juga dapat membandingkan isi naskah dengan koleksi lain yang berada di perpustakaan berbeda.
Hal ini dapat mempercepat kajian sejarah, sastra, bahasa Jawa, filologi, dan kebudayaan.
Meski begitu, proses digitalisasi tidak otomatis berarti seluruh file langsung terbuka untuk publik.
Lembaga pengelola tetap perlu menentukan bagaimana akses diberikan, apakah melalui katalog daring, ruang baca digital, atau mekanisme permohonan tertentu.
Jadwal pembukaan akses penuh terhadap seluruh koleksi juga belum seluruhnya diumumkan.
Tantangan Tidak Berhenti pada Pemindaian
Setelah proses pengambilan gambar selesai, pekerjaan pengelolaan baru memasuki tahap berikutnya.
File digital harus diberi identitas yang jelas agar tidak menjadi kumpulan gambar tanpa informasi.
Setiap manuskrip idealnya memiliki metadata mengenai judul, nomor koleksi, asal, perkiraan usia, bahasa, kondisi, serta keterangan lain yang relevan.
Pencadangan data juga menjadi penting.
File digital tetap bisa rusak, hilang, atau tidak dapat dibuka apabila tidak disimpan melalui sistem yang baik.
Karena itu, pengelola memerlukan lebih dari satu salinan pada tempat penyimpanan yang berbeda.
Standar kualitas gambar juga harus dijaga.
Warna tinta, detail tulisan kecil, catatan pinggir, serta bagian halaman yang pudar perlu terekam sejelas mungkin karena dapat menjadi informasi penting bagi peneliti.
Kerja Sama Internasional Tambah Nilai Pelestarian
Keterlibatan British Library memberi dimensi internasional dalam proyek ini.
Kerja sama semacam itu membuka peluang pertukaran pengetahuan dalam konservasi, dokumentasi, dan pengelolaan koleksi.
Perpusnas juga memiliki peran besar dalam memastikan proses sesuai dengan standar pelestarian naskah.
Sementara pihak keraton menjadi pemegang konteks sejarah serta pengetahuan mengenai koleksi.
Kolaborasi ketiganya membuat program tidak hanya berorientasi pada teknologi.
Aspek budaya, sejarah, konservasi, dan akses publik juga ikut diperhatikan.
Peluang Baru bagi Warisan Budaya Solo
Bagi Kota Solo, digitalisasi 210 manuskrip dapat memperkuat posisi sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa.
Keraton Surakarta selama ini memiliki nilai sejarah yang kuat, tetapi dokumentasi digital dapat memperluas fungsi koleksi di luar ruang penyimpanan.
Materi hasil digitalisasi dapat mendukung pendidikan, penelitian, pameran, hingga pengembangan kajian budaya.
Namun, pemanfaatannya tetap harus memperhatikan hak pengelolaan dan kebijakan lembaga pemilik.
Tahap berikutnya yang perlu diperhatikan adalah kelanjutan proses katalogisasi, pemeliharaan file, serta akses bagi peneliti dan masyarakat.
Jika seluruh proses berjalan konsisten, teknologi dapat membantu mempertemukan warisan lama dengan kebutuhan generasi baru.
Digitalisasi manuskrip Keraton Surakarta pada akhirnya bukan sekadar memindahkan halaman ke layar.
Program tersebut merupakan upaya menjaga pengetahuan agar tetap dapat dipelajari meski usia dokumen fisik terus bertambah.
