
MediaSolo mencatat upaya mencegah penyakit tidak menular atau PTM semakin diarahkan kepada kelompok remaja. Pendekatan tersebut muncul karena faktor risiko penyakit jantung, diabetes, hipertensi, dan kondisi kronis lainnya tidak tiba-tiba terbentuk saat seseorang memasuki usia tua. Pola makan, aktivitas fisik, berat badan, penggunaan tembakau, hingga kebiasaan tidur mulai membangun risiko sejak masa sekolah. Indonesia sendiri memiliki sekitar 47 juta penduduk berusia 10–19 tahun atau kira-kira 17 persen dari populasi.
Jumlah tersebut membuat kesehatan remaja menjadi persoalan jangka panjang.
Ketika kebiasaan tidak sehat bertahan selama bertahun-tahun, risiko penyakit kronis dapat muncul lebih awal dan akhirnya menambah beban keluarga maupun sistem kesehatan.
Penyakit Kronis Tidak Hanya Menyerang Orang Tua
Istilah penyakit tidak menular sering diasosiasikan dengan usia lanjut.
Kenyataannya, berbagai faktor risikonya bisa muncul jauh lebih cepat.
Tekanan darah tinggi menjadi salah satu contoh.
Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan hipertensi berdasarkan pengukuran sudah ditemukan pada 10,7 persen kelompok usia 18–24 tahun.
Pada usia 25–34 tahun, angkanya mencapai 17,4 persen.
Artinya, masa muda tidak otomatis memberi perlindungan dari gangguan kesehatan metabolik maupun kardiovaskular.
Seseorang dapat merasa sehat karena belum mengalami gejala, sementara tekanan darah, gula darah, atau berat badan mulai bergerak ke arah yang berisiko.
Remaja Menghadapi Banyak Faktor Risiko
Masalah kesehatan generasi muda tidak hanya berasal dari satu penyebab.
Pola makan tinggi gula, garam, dan lemak dapat berjalan bersamaan dengan aktivitas fisik yang rendah.
Waktu penggunaan layar juga terus meningkat.
Sebagian remaja menghabiskan banyak waktu dengan duduk ketika belajar, bermain gim, menonton video, atau menggunakan media sosial.
Kebiasaan seperti ini tidak selalu langsung menyebabkan penyakit.
Namun, jika berlangsung bertahun-tahun tanpa aktivitas fisik yang cukup, dampaknya dapat terakumulasi.
Obesitas menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan berbagai gangguan metabolik.
Tembakau Masih Menjadi Tantangan
Rokok juga menjadi bagian penting dalam pembahasan kesehatan remaja.
Program kesehatan yang diberitakan dalam laporan ANTARA bahkan memasukkan skrining penggunaan tembakau di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Pendekatan tersebut bertujuan menemukan kebiasaan berisiko lebih awal sebelum berkembang menjadi ketergantungan jangka panjang.
Pengendalian tidak cukup hanya dengan memberi tahu bahwa merokok berbahaya.
Remaja juga menghadapi pengaruh lingkungan, pertemanan, pemasaran, dan akses terhadap produk nikotin.
Karena itu, edukasi perlu berjalan bersama kebijakan serta dukungan keluarga dan sekolah.
Sekolah Menjadi Tempat Pencegahan yang Strategis
Sebagian besar remaja menghabiskan waktu yang panjang di lingkungan sekolah.
Kondisi tersebut membuat sekolah menjadi tempat ideal untuk membangun kebiasaan sehat.
Program tidak harus berbentuk pemeriksaan medis rumit.
Pengukuran berat badan, tinggi badan, tekanan darah, kesehatan gigi, kondisi mental, dan edukasi pola makan dapat membantu menemukan masalah lebih cepat.
Remaja juga perlu mengetahui bagaimana membaca sinyal tubuh.
Mereka harus memahami bahwa sesak saat aktivitas ringan, kenaikan berat badan berlebihan, atau tekanan darah tidak normal layak mendapat perhatian.
Pencegahan Tidak Sama dengan Menakut-nakuti
Pesan kesehatan kepada remaja perlu disampaikan secara tepat.
Pendekatan yang hanya berisi larangan sering tidak efektif.
Anak muda lebih membutuhkan informasi praktis yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari.
Misalnya, perubahan sederhana seperti bergerak lebih sering, mengurangi minuman tinggi gula, tidur teratur, serta memilih makanan dengan komposisi lebih seimbang.
Tujuannya bukan membuat semua remaja menjalani pola hidup ekstrem.
Kesehatan jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh kebiasaan yang realistis dan dapat dipertahankan.
Program Sudah Menjangkau Jutaan Anak Muda
Kemitraan kesehatan remaja antara AstraZeneca dan UNICEF Indonesia telah berjalan sejak 2020.
Program tersebut dilaporkan sudah menjangkau sekitar 2,5 juta anak muda.
Lebih dari 25 ribu remaja dan 350 advokat muda mendapat pelatihan, sementara 120 pemimpin muda dilibatkan dalam dukungan terhadap pedoman kesehatan remaja.
Angka jangkauan besar penting, tetapi kualitas perubahan perilaku tetap menjadi ukuran utama.
Edukasi akan lebih berarti apabila peserta benar-benar mempunyai akses untuk menerapkannya.
Saran makan sehat, misalnya, akan sulit dijalankan jika pilihan makanan di sekitar sekolah masih didominasi produk tinggi gula dan garam.
Lingkungan Ikut Menentukan Pilihan
Tanggung jawab kesehatan tidak dapat dibebankan seluruhnya kepada remaja.
Lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap pilihan sehari-hari.
Ketersediaan ruang olahraga, makanan sehat yang terjangkau, layanan konseling, hingga aturan produk tembakau ikut membentuk perilaku.
Karena itu, sekolah, orang tua, fasilitas kesehatan, industri, dan pemerintah perlu bergerak bersama.
Remaja yang ingin aktif akan lebih mudah melakukannya jika tersedia ruang yang aman.
Mereka juga lebih mudah memperbaiki pola makan ketika pilihan sehat tersedia dengan harga wajar.
Skrining Membantu Menemukan Risiko Lebih Cepat
Penyakit tidak menular sering berkembang perlahan.
Seseorang bisa tidak merasakan keluhan ketika tekanan darah atau gula darah mulai bermasalah.
Skrining memberi kesempatan untuk menemukan kondisi tersebut sebelum muncul komplikasi.
Namun, pemeriksaan harus diikuti tindak lanjut.
Tidak cukup hanya memberi hasil kepada siswa.
Remaja dengan temuan tertentu perlu mendapatkan penjelasan, dukungan keluarga, dan rujukan apabila diperlukan.
Tanpa tindak lanjut, skrining hanya menghasilkan angka tanpa perubahan.
Kebiasaan Masa Muda Menentukan Tahun Berikutnya
Mencegah PTM pada remaja bukan berarti semua penyakit dapat dihilangkan.
Faktor genetik, lingkungan, dan kondisi kesehatan individual tetap berperan.
Namun, risiko dapat dikurangi ketika kebiasaan sehat mulai terbentuk lebih awal.
Indonesia mempunyai puluhan juta remaja yang akan memasuki usia produktif dalam beberapa tahun ke depan.
Menjaga kesehatan kelompok tersebut berarti mengurangi kemungkinan generasi produktif menghadapi diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau kondisi kronis terlalu dini.
Pencegahan akhirnya bukan sekadar kampanye kesehatan sekolah. Ia menjadi investasi agar masa produktif generasi muda tidak habis untuk menangani penyakit yang sebagian risikonya sebenarnya dapat ditekan sejak sekarang.












No Response