Media Solo mencatat Bengawan Team UNS juara KMHE 2026 setelah tim mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta meraih Juara I kelas Urban Concept MPD Diesel pada Kontes Mobil Hemat Energi di Universitas Jember. Wirasena 4.0 yang menjadi kendaraan andalan tim mencatat efisiensi bahan bakar 280,06 kilometer per liter, sementara Nirankara 4.0 membawa UNS menempati posisi kedua kelas Prototype MPD Bensin.

Kompetisi berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 dan mempertemukan tim mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Hasil tersebut memperpanjang catatan Bengawan Team sebagai salah satu tim kendaraan hemat energi yang konsisten bersaing di tingkat nasional.

Prestasi tahun ini juga memperlihatkan bahwa pengembangan mobil efisien di kampus tidak berhenti pada desain.

Kendaraan harus membuktikan konsumsi energinya langsung di lintasan.

Bengawan Team UNS Juara KMHE 2026 di Kelas Diesel

Pada kategori Urban Concept MPD Diesel, Bengawan Team 2 UNS keluar sebagai juara pertama.

Posisi kedua ditempati Garnesa Racing Team dari Universitas Negeri Surabaya, sedangkan Team Horas Universitas Sumatera Utara berada di posisi ketiga.

Daftar pemenang tersebut dikonfirmasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Wirasena 4.0 mencatat konsumsi bahan bakar sangat rendah selama kompetisi.

Angka 280,06 km/liter menunjukkan kendaraan secara teoritis dapat menempuh jarak ratusan kilometer menggunakan satu liter bahan bakar dalam kondisi pengujian kompetisi.

Angka tersebut tentu tidak dapat langsung dibandingkan dengan konsumsi mobil produksi yang digunakan sehari-hari.

KMHE memakai kendaraan yang dirancang secara khusus untuk efisiensi dengan bobot, aerodinamika, mesin, kecepatan, dan pola berkendara yang berbeda.

Namun, kompetisi memberi ruang bagi mahasiswa untuk menguji berbagai pendekatan rekayasa yang suatu saat dapat diterapkan pada kendaraan lebih luas.

Wirasena 4.0 Dirancang Seperti Mobil Perkotaan

Kategori Urban Concept memiliki karakter yang lebih dekat dengan kendaraan jalan raya dibandingkan Prototype.

Mobil tetap harus memiliki sejumlah elemen seperti lampu utama, lampu sein, kaca depan, dan komponen lain yang membuat bentuknya menyerupai kendaraan perkotaan.

Meski demikian, efisiensi tetap menjadi prioritas.

Tim harus mengurangi hambatan udara, menekan bobot, mengatur perpindahan tenaga, dan memilih strategi berkendara yang tepat.

Bengawan Team sejak awal menyiapkan Wirasena 4.0 untuk kebutuhan tersebut.

Menurut UNS, kendaraan Urban Concept mereka dikembangkan agar memiliki karakter penggunaan mendekati mobil biasa tetapi tetap mempertahankan bentuk aerodinamis.

Proses pengembangan dimulai jauh sebelum kompetisi berlangsung.

Setiap perubahan pada bodi, mesin, transmisi, atau kelistrikan dapat memengaruhi hasil akhir.

Nirankara 4.0 Raih Posisi Kedua

Prestasi Bengawan Team tidak hanya datang dari kendaraan diesel.

Nirankara 4.0 yang turun pada kategori Prototype MPD Bensin meraih posisi kedua nasional.

Juara pertama kelas tersebut diraih Antawirya Rondhan ICE dari Universitas Diponegoro.

Prototype memiliki tujuan yang sedikit berbeda dari Urban Concept.

Mobil dirancang dengan bentuk jauh lebih ekstrem demi mengurangi hambatan udara dan bobot.

Kabin biasanya lebih kecil dan posisi pengemudi disesuaikan dengan kebutuhan aerodinamika.

Tim kemudian mempunyai ruang lebih luas bereksperimen dengan desain kendaraan.

Nirankara 4.0 menjadi salah satu hasil pengembangan tersebut.

Bodi ringan dan bentuk aerodinamis dipakai untuk menekan energi yang dibutuhkan selama kendaraan bergerak.

Efisiensi Tidak Hanya Ditentukan Mesin

Hasil 280 km/liter bukan semata-mata hasil mesin yang irit.

Banyak komponen bekerja bersama.

Hambatan dari ban, berat rangka, bentuk bodi, sistem pengereman, kualitas bearing, rasio transmisi, dan gaya berkendara memiliki pengaruh.

Pengemudi juga memegang peran sangat besar.

Akselerasi yang terlalu agresif dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar.

Sebaliknya, kendaraan yang bergerak terlalu lambat berisiko tidak memenuhi waktu minimum perlombaan.

Tim harus menghitung strategi yang paling efisien untuk setiap putaran.

Karena itu, KMHE tidak sekadar menguji kemampuan membuat mobil.

Kompetisi juga menguji analisis data, komunikasi anggota, strategi, serta kemampuan menyelesaikan masalah ketika kendaraan mengalami gangguan.

Ajang KMHE Jadi Laboratorium Mahasiswa

Kontes Mobil Hemat Energi merupakan kompetisi tahunan yang diselenggarakan di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kompetisi dirancang untuk mendorong mahasiswa mengembangkan kendaraan dengan penggunaan energi seefisien mungkin.

Rektor Universitas Jember Iwan Taruna saat menutup KMHE 2026 menekankan bahwa teknologi transportasi tidak cukup hanya mengejar kecepatan dan performa.

Efisiensi energi juga menjadi bagian penting dari perkembangan kendaraan masa depan.

Kompetisi seperti ini menjadi tempat mahasiswa menghadapi persoalan rekayasa yang nyata.

Konsep yang berhasil di simulasi belum tentu bekerja sempurna ketika mobil masuk lintasan.

Suhu, kondisi permukaan jalan, sistem kelistrikan, hingga kesalahan kecil pada komponen dapat mengubah hasil.

Bengawan Team Bangun Rekam Jejak Panjang

Bengawan Team bukan tim baru.

Kelompok riset kendaraan UNS tersebut telah aktif mengikuti KMHE dan kompetisi kendaraan hemat energi lainnya selama beberapa tahun.

Tim mengembangkan dua pendekatan utama, yakni Prototype dan Urban Concept.

Menurut situs Bengawan Team, riset mereka diarahkan pada desain ringan, aerodinamika, serta peningkatan efisiensi energi.

Prestasi 2026 melanjutkan hasil tahun sebelumnya.

Pada KMHE 2025, Bengawan Team juga meraih podium di kelas Urban Diesel dan Prototype Gasoline.

Konsistensi tersebut menunjukkan pentingnya regenerasi anggota.

Sebagian besar tim mahasiswa mengalami pergantian personel setiap beberapa tahun karena anggotanya lulus.

Dokumentasi teknis dan transfer pengetahuan kemudian menjadi faktor penting agar pengalaman tidak hilang.

Riset Mahasiswa Bisa Menjadi Modal Industri

Kendaraan KMHE memang bukan produk yang akan langsung dijual kepada masyarakat.

Namun, prinsip yang dipelajari memiliki hubungan dengan industri.

Pengurangan bobot, efisiensi drivetrain, aerodinamika, optimasi konsumsi bahan bakar, hingga pengolahan data juga dipakai dalam pengembangan kendaraan produksi.

Mahasiswa memperoleh pengalaman sebelum masuk ke dunia kerja.

Mereka tidak hanya mempelajari rumus, tetapi harus mengubah rancangan menjadi kendaraan yang benar-benar dapat berjalan.

Bagi UNS dan Kota Solo, hasil KMHE 2026 menambah catatan prestasi teknologi mahasiswa.

Tantangan Bengawan Team berikutnya adalah mempertahankan performa sekaligus terus meningkatkan teknologi.

Capaian 280,06 km/liter memberi standar baru bagi pengembangan Wirasena berikutnya.

Yang lebih penting, pengalaman tersebut dapat menjadi dasar bagi riset kendaraan rendah energi yang lebih dekat dengan kebutuhan transportasi masa depan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *